Arsip Bulanan: November 2016

Blogger dan Internet: Tidak Terpisahkan!

Menulis blog bagi saya artinya menuangkan berbagai pemikiran yang terkumpul di kepala saya, setelah mendapatkan sebuah ide. Berhubung menulis sudah menjadi kebutuhan (kalau seminggu nggak nulis itu rasanya hati gelisah, he he…), maka ide buat saya bisa datang dari mana saja. Bisa ketika saya sedang mengikuti sebuah event, membaca sebuah artikel di blog lainnya, menyimak berita terkini di televisi atau kanal berita online, bahkan hal yang ringan-ringan seperti menonton video YouTube.

Kegiatan nge-blog sambil berinternet, merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. (foto sumber: huffingtonpost.com)

Kegiatan nge-blog sambil berinternet, merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. (foto sumber: huffingtonpost.com)

Terakhir, saya membuat satu artikel panjang mengenai tokoh First Lady Gedung Putih gara-gara habis menonton trailer film Jackie di YouTube. Itu pun dilakukan tidak sengaja karena saya sedang iseng saja browsing film-film terbaru yang biasanya suka ditampilkan di sana sambil menjelang tidur malam. Browsing-nya biasanya pakai HP, karena toh kalau sudah mengantuk tinggal diletakkan di samping tempat tidur tanpa perlu menegakkan badan lagi ;p. Dasar pemalas ya saya…

Baca lebih lanjut

Usia Cantik, Bukan Sembarang Cantik

 Sewaktu kecil, yang terbayang di kepala andaikata ditanya imej tentang wanita cantik, yang teringat adalah wajah Desy Ratnasari. Pada masa itu, tepatnya sekitar akhir tahun 80 hingga awal 90-an, wajah bintang Gadis Sampul ini memang sering banget seliweran di halaman majalah maupun televisi. Paras imut-imut menggemaskan, rambut panjang, kulit putih. Saat itu, usia Desy masih belum genap 20.

beautiful-definition-quote

Saat saya beranjak remaja dan mengenal tontonan televisi serial impor seperti Beverly Hills, imej saya tentang wanita cantik berubah. Sosok Shannen Doherty yang berperan sebagai Brenda dalam serial tersebut menjadi tolok ukur saya mengenai cantik. Tapi, masih tetap dengan ciri yang sama, yaitu kulit putih dan rambut panjang, plus poni. Beda sekali dengan saya yang pada saat itu masih nggak pede dengan penampilan fisik saya: kulit cenderung coklat sawo matang (kalau nggak mau dibilang gosong ;p), rambut ikal pendek berantakan yang susah diatur, plus mata belo seperti mau keluar, ha ha ha…

Baca lebih lanjut

Kewirausahaan Sosial a la ASEAN

Beberapa tahun belakangan, usaha start up berbasis teknologi digital semakin berkembang di berbagai negara, tidak ketinggalan pula di Indonesia. Kalau menurut definisi abang Wikipedia, start up itu merupakan sebuah kongsi atau badan usaha berbasis kewirausahaan, yang dikelola oleh sekumpulan orang dalam kelompok kecil, dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi digital seperti internet dan media sosial interaktif seperti facebook, instagram, dan sifat usahanya inovatif yaitu memberikan ide atau metode baru. Ketika usaha ini bisa menjawab permasalahan atas kebutuhan masyarakat, maka start up tersebut juga bisa dikatakan sebagai suatu kegiatan kewirausahaan sosial, yang dalam istilah kerennya disebut social entrepreneurship.

Konferensi ASEAN mengenai kewirausahaan sosial di Hotel Bidakara Jakarta, 24-26 Oktober 2016. (foto: dok.pri)

Konferensi ASEAN mengenai kewirausahaan sosial di Hotel Bidakara Jakarta, 24-26 Oktober 2016. (foto: dok.pri)

Seiring berkembangnya kewirausahaan sosial berbasis teknologi digital di beberapa negara maju seperti Amerika Serikat, Singapura, dan negara-negara berkembang termasuk Indonesia, maka digagaslah sebuah pertemuan yang mengumpulkan para wirausahawan/wati digital-sosial tersebut dalam acara ASEAN Conference on Social Entrepreneurship. Acara yang digelar selama tiga hari dari tanggal 24 hingga 26 Oktober 2016 di Hotel Bidakara Jakarta ini menghadirkan tidak hanya para wirausahawan/wati start up yang didominasi oleh generasi muda (yang saya temui kebanyakan masih kuliah), melainkan juga para investor yang terdiri dari perusahaan publik maupun swasta.

Baca lebih lanjut

Tiga Sosok First Lady Tangguh Amerika Serikat

“Di balik pria yang sukses, pasti ada wanita yang hebat”. Pepatah ini berlaku untuk ketiga orang first lady yang menjadi istri dari presiden-presiden Amerika Serikat fenomenal sepanjang sejarah modern Amerika Serikat. Ada Jacqueline Kennedy, yang lebih beken dengan nama panggilan Jackie, istri dari John Fitzgerald Kennedy (atau disingkat JFK), yang memimpin negara adidaya tersebut selama periode tahun 1961 hingga 1963. Yang kedua ada Hillary Clinton, istri dari Bill Clinton, presiden Amerika Serikat yang terpilih untuk dua kali periode sepanjang akhir tahun 1990 hingga awal milenia ketiga. Dan yang ketiga ada Michelle Obama, istri dari presiden kulit hitam pertama sepanjang sejarah kepemimpinan negeri Paman Sam, Barack Obama, juga menjabat selama dua periode berturut-turut dari tahun 2008 hingga 2016.

jackie-hillary-michelle

ki-ka: Jackie Kennedy, Hillary Clinton, Michelle Obama. (Foto diambil dari wikipedia, huffington post & website the white house)

Baca lebih lanjut

Sisterhood Runway di Jakarta Fashion Week 2017

Pertama kalinya saya berkesempatan menyaksikan pagelaran busana karya tiga perancang asal Indonesia di ajang Jakarta Fashion Week (JFW) 2017 pada tanggal 24 Oktober 2016 yang lalu di Senayan City.  JFW ini sudah diselenggarakan sejak tahun 2008, biasanya dilaksanakan selama satu minggu, yang merupakan acara pagelaran mode terbesar di Asia Tenggara. Dari JFW ini para disainer Indonesia–tidak hanya disainer busana, melainkan juga aksesoris seperti perhiasan dan sepatu–dapat melebarkan sayapnya ke tingkat dunia karena dalam event ini, selain media lokal, hadir pula media asing yang meliput acara ini, serta para buyer yang tertarik untuk bekerjasama dan mengekspor karya mereka ke pasar global.

JFW tahun ini juga menghadirkan busana hasil rancangan para disainer muda yang terpilih dalam program Indonesia Fashion Forward (IFF), yang didukung serta disponsori oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan British Council Indonesia. Barli Asmara dan Dian Pelangi merupakan disainer angkatan pertama yang mempelopori program IFF. Sementara, untuk JFW 2017, berbagai busana yang ditampilkan merupakan karya Tommy Ambiyo Tedji dengan label B-Y-O, Yelly dan Konny Lumentu untuk label Day and Night, Rani Hatta, label Bateeq karya Michelle Tjokrosaputro, dan Paulina Katarina.  Selain itu ada juga beberapa brand yang turut mensponsori berlangsungnya acara JFW dan turut menampilkan busana-busana terbaik rancangan beberapa disainer Indonesia.

Baca lebih lanjut